Jenazah pasien dengan COVID-19 perlu dikelola dengan etis dan layak sesuai dengan agama, nilai, norma dan budaya. Prinsip utama dalam memberikan pelayanan ini adalah seluruh petugas wajib menjalankan kewaspadaan standar dan didukung dengan sarana prasarana yang memadai.

Kemudian apakah kriteria pasien yang dilakukan pemusalaraan Jenazah dengan Covid-19 ?

  1. Jenazah Suspek dari dalam rumah sakit sebelum keluar hasil swab.
  2. Jenazah pasien dari dalam rumah sakit yang telah ditetapkan sebagai kasus probable/konfirmasi Covid-19
  3. Jenazah dari luar rumah sakit, dengan riwayat yang memenuhi kriteria probable/konfirmasi Covid-19. Hal ini termasuk pasien DOA (Death on Arrival) rujukan dari rumah sakit lain

Pemulasaraan jenazah di kamar jenazah

  • Jenazah yang masuk dalam kriteria tersebut dianjurkan dengan sangat untuk dipulasaran di kamar jenazah.
  • Tindakan pemandian jenazah hanya dilakukan setelah tindakan desinfeksi.
  • Petugas pemandi jenazah menggunakan APD standar.
  • Petugas pemandi jenazah dibatasi hanya sebanyak dua orang. Keluarga yang hendak membantu memandikan jenazah hendaknya juga dibatasi serta menggunakan APD sebagaimana petugas pemandi jenazah.
  • Jenazah dimandikan sesuai dengan agama dan kepercayaan yang
  • Setelah jenazah dimandikan dan dikafankan/diberi pakaian,jenazah dimasukkan ke dalam kantong jenazah atau dibungkusdengan plastik dan diikat rapat.
  • Bila diperlukan peti jenazah, maka dilakukan cara berikut: jenazahdi masukkan ke dalam peti jenazah dan ditutup rapat; pinggiran petidisegel dengan sealant/silikon; dan dipaku/disekrup sebanyak 4-6 titik dengan jarak masing-masing 20 cm. Peti jenazah yang terbuat dari kayu harus kuat, rapat, dan ketebalan peti minimal 3 cm

Desinfeksi jenazah di kamar jenazah

  • Petugas kamar jenazah memberikan penjelasan kepadakeluarga mengenai tata laksana pada jenazah yang meninggaldengan penyakit menular, terutama pada kondisi pandemi COVID-19.
  • Pemulasaraan jenazah dengan penyakit menular atau sepatutnya diduga meninggal karena penyakit menular harus dilakukan desinfeksi terlebih dahulu.
  • Desinfeksi jenazah dilakukan oleh tenaga yang memiliki kompetensi untuk itu, dengan menggunakan APD lengkap:
  1. Shoe cover atau sepatu boots.
  2. Apron (Apron gaun lebih diutamakan).
  3. Masker N-95.
  4. Penutup kepala atau head cap.
  5. Goggle atau faceshield.
  6. sarung tangan non steril.
  • Bahan desinfeksi jenazah dengan penyakit menular menggunakan larutan formaldehyde 10% atau lebih dengan paparan minimal 30 menit dengan teknik intraarterial (bila memungkinkan), intrakavitas dan permukaan saluran pernapasan. Setelah dilakukan tindakan desinfeksi, dipastikan tidak ada cairan yang menetes atau keluar dari lubang-lubang tubuh. Bila terdapat penolakan penggunaan formaldehyde, maka dapat dipertimbangkan penggunaan klorin dengan pengenceran 1:9 atau 1:10 untuk teknik intrakavitas dan permukaan saluran napas.
  • Semua lubang hidung dan mulut ditutup/disumpal dengan kapas hingga dipastikan tidak ada cairan yang keluar.
  • Pada jenazah yang masuk dalam kriteria mati tidak wajar, maka desinfeksi jenazah dilakukan setelah prosedur forensik selesai dilaksanakan

Layanan Kedukaan

  • Setiap orang diharapkan dapat melakukan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.
  • Persemayaman jenazah dalam waktu lama sangat tidak dianjurkan untuk mencegah penularan penyakit maupun penyebaran penyakit antar pelayat.
  • Jenazah yang disemayamkan di ruang duka, harus telah dilakukan tindakan desinfeksi dan dimasukkan ke dalam peti jenazah sertatidak dibuka kembali.
  • Untuk menghindari kerumunan yang berpotensi sulitnya melakukan physical distancing, disarankan agar keluarga yang hendak melayat tidak lebih dari 30 orang. Pertimbangan untuk hal ini adalah mencegah penyebaran antar pelayat.
  • Jenazah hendaknya disegerakan untuk dikubur atau dikremasi sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya dalam waktu tidak lebih dari 24 jam.
  • Setelah diberangkatkan dari rumah sakit, jenazah hendaknya langsung menuju lokasi penguburan/ krematorium untuk dimakamkan atau dikremasi. Sangat tidak dianjurkan untuk disemayamkan lagi di rumah atau tempat ibadah lainnya.

Pengantaran jenazah dari rumah sakit ke Pemakaman

  • Transportasi jenazah dari rumah sakit ke tempat pemakaman dapatmelalui darat menggunakan mobil jenazah.
  • Jenazah yang akan ditransportasikan sudah menjalani prosedurdesinfeksi dan telah dimasukkan ke dalam kantong jenazah ataudibungkus dengan plastik yang diikat rapat, serta ditutup semualubang-lubang tubuh

 

Pemakaman
Beberapa ketentuan dalam pemakaman sebagai berikut:

  • Pemakaman jenazah dilakukan segera mungkin dengan melibatkan pihak RS dan /atau Petugas Gugus Tugas.
  • Pelayat yang menghadiri pemakaman tetap menjaga jarak sehingga jarak aman minimal 2 meter
  • Penguburan dapat dilakukan di pemakaman umum
  • Penguburan beberapa jenazah dalam satu liang kubur dibolehkan pada kondisi darurat.
  • Pemakaman dapat dihadiri oleh keluarga dekat dengan tetap memperhatikan physical distancing dengan jarak minimal 2 meter,maupun kewaspadaan standar. Setiap individu pelayat/ keluargayang menunjukkan gejala COVID-19 tidak boleh hadir.
  • Jenazah yang menggunakan peti, harus dipastikan peti tersebut telah ditutup dengan erat.
  • Penguburan jenazah dengan cara memasukkan jenazah bersamapeti kedalam liang kubur tanpa harus membuka peti, plastik dankain kafan
  • Petugas pemakaman harus menggunakan APD standar terdiri darimasker bedah dan sarung tangan tebal. APD yang telah digunakanmerupakan limbah medis yang harus dilakukan pengelolaan sesuaiketentuan peraturan perundang-undangan.

 

Sumber : Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19) –

               Kemenkes Juli 2020

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *